Kamis, 21 Juni 2012

Sejarah Pantun Dan Puisi

WELCOME TO MY BLOG

1 1.0 PENGENALAN Pantun merupakan sebuah sastera rakyat yang boleh digunakan dengan seluas-luasnya didalam masyarakat melayu dengan tidak kira apa tujuannya. Pantun dilahirkan untuk mewujudkansesuatu maksud tertentu. Ia bertujuan memperindah lagi sesuatu ucapan.Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka. Dalam konteks ini, pantun sangat sesuai dengan jiwa orang Melayu kerana dapat menunjukkan keperibadian orangMelayu yang mempunyai kesenian serta kebudayaan sendiri.Pantun juga merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenali dalam bahasa-bahasa Nusantara. Orang Melayu telah mencipta pantun dalam bentuk berangkap. Selainitu, pantun juga bertujuan untuk membicarakan tentang budi bahasa, kasih sayang masyarakat,adat istiadat, perkahwinan dan sebagainya.Dalam bahasa Jawa pula, pantun dikenali sebagaiparikan dan dalam bahasa Sundadikenali sebagaipaparikan. Lazimnya pantun terdiri empat baris dan berakhir dengan pola a-b, a- b. Pada zaman dahulu pantun merupakan sastera lisan, namun sekarang dijumpai dalam bentuk bertulis.Di samping itu juga, pantun mempunyai peranan tersendiri, iaitu pantun merupakan adatmemelihara bahasa, menjadi penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantunmelatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih seseorang berfikir secara asosiatif, bahawa suatu kata akan memiliki kaitan dengan kata yang lain.Pantun juga merupakan warisan orang Melayu sejak dari dahulu lagi. Keindahan katadalam khazanah bahasa melayu memperlihat daya cipta pemikiran dan falsafah masyarakatMelayu tradisional yang tinggi, asli dan bernilai seni.

2 2.0 PENGENALAN Puisi, adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru
Namun beberapa kasus mengenai puisi modern atau puisi cyber belakangan ini makin memprihatinkan jika ditilik dari pokok dan kaidah puisi itu sendiri yaitu 'pemadatan kata'. kebanyakan penyair aktif sekarang baik pemula ataupun bukan lebih mementingkan gaya bahasa dan bukan pada pokok puisi tersebut.
Didalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah. Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran langsung dengan kasar.
Dibeberapa daerah di indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun. Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi

1. Unsur-unsur puisi

      A.  Struktur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi terdiri dari:
  • Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
  • Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
  • Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
  • Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
  • Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke,eufamisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitetis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
  • RIma/irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup:
  1. Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.),
  2. Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya
  3. Pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

    B. Struktur Batin Puisi

    Struktur batin puisi terdiri dari
    • Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
    • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
    • Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
    • Amanat/tujuan/maksud (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.

      2. Jenis-Jenis Puisi

      Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru

          Puisi Lama


      Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
      • Jumlah kata dalam 1 baris
      • Jumlah baris dalam 1 bait
      • Persajakan (rima)
      • Banyak suku kata tiap baris
      • Irama
      Ciri puisi lama:
      • Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
      • Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
      • Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
      Jenis-jenis puisi lama
      • Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

        Puisi Baru

        Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.Ciri-ciri Puisi Baru:

        • Bentuknya rapi, simetris;
        • Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
        • Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
        • Sebagian besar puisi empat seuntai;
        • Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
        • Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
        Jenis-jenis Puisi Baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
        • Blada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.
        • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater(Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.

        Puisi Kontemporer



        Kata kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman. Selain itu, puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional puisi iti sendiri. Puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata makin kasar, ejekan, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.

        Tokoh-tokoh puisi kontemporer di Indonesia saat ini, yaitu sebagai berikut:
        • Sutardji Calzoum Bachri dengan tiga kumpulan puisinya OAmuk, dan O Amuk Kapak
        • Ibrahim Sattah dengan kumpulan puisinya Hai Ti
        • Hamid Jabbar dengan kumpulan puisinya Wajah Kita
        Puisi kontemporer dibedakan menjadi 3 yaitu
        • Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Colzoum Bahri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer. Ciri-ciri mantra adalah:
        1. Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu
        2. Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri
        3. Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak pada perintah. sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi#Unsur-unsur_puisi


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar